Kamis, 26 Januari 2006

Jangka Jayabaya


Judul : Jangka Jayabaya
Saatnya Bertindak Tanpa rasa Takut
dan Meraih Kejayaan
Penulis : Anand Krishna
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2005
Tebal : 216 hal

Jayabaya salah seorang raja Kediri (1130-57), masa pemerintahannya merupakan jaman emas bagi perkembangan sastra Jawa Kuno. Pada masa pemerintahannya inilah Raja Jayabaya menulis syair Jangka Jayabaya yang dipercaya banyak kalangan berisi ramalan tentang masa keruntuhan kerajaannya sendiri, dan sekaligus tentang kebangkitan dan kejayaannya kembali di kelak kemudian hari. Ramalan tentang jatuh-bangunnya "Negeri Jawa" atau Nusantara.

Jangka Jayabaya dikenal dan dipercaya oleh kalangan sangat luas masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Entah sejak kapan "ramalan" ini beredar di tengah masyarakat. Tapi yang pasti ia telah dan akan selalu berulang hadir pada setiap saat masyarakat di dalam kemelut. Entah kemelut karena sebab sosial-politik, entah pula karena adanya bencana atau musibah besar yang melanda.

Banyak sudah tafsir-tafsir terhadap syair-syair Jangka Jayabaya, umumnya para penafsir itu selalu menekankan pada akan datangnya sosok pemimpin hebat yang akan memulihkan zaman yang morat-marit ini menuju zaman yang penuh kemuliaan dan ketentraman sejati. Namun Anand Krishna melalui buku ini mengambil jalur yang jarang ditempuh oleh para penafsir Jayabaya. Alih-alih menantikan seorang tokoh hebat yang akan memimpin kita, baginya Jayabaya bicara mengenai kerinduan akan penemuan jati diri setiap manusia Indonesia. Jadi buku ini sebenarnya adalah tafsir penulis terhadap Naskah Jayabaya, khususnya dengan penekanan pada ajakan untuk mengatasi rasa takut terhadap keadaan sekarang dan untuk bertindak sekarang, demi kejayaan pribadi dan Indonesia.

Jangka Jayabaya, menurut tafsir tokoh spritualis Anand Krishna bukan berarti ramalan. "Jangka" tidak berarti ramalan. Jangka berarti waktu, time…Jangka adalah waktu yang ikut berubah bersama keberadaan. Ramalan memang menarik dan bisa saja akurat, namun ia akan menjadi basi bila telah menjadi kenyataan. Tidak demikian dengan Jangka. Jangka Jayabaya dari dulu hingga kini tetap menarik. Dibaca kapanpun baik-bait Jangka Jayabaya tetap menarik dan selalu relevan. Jayabaya memang abadi, namun bukan si penulis Jangka Jayabaya, tetapi Jayabaya itu sendiri yang abadi. Jaya berarti "menang, kemenangan". Bhaya berarti "rasa takut". Jaya Bhaya berarti "kemenangan atas rasa takut" Karena itulah bagi Anand Krishna Jangka Jaya Bhaya adalah ajakan untuk transformasi diri, mengalahkan ketakutan. Lebih dari sekadar ramalan, naskah kuno ini memaparkan tuntutan waktu supaya kita hidup dalam kekinian, dengan penuh semangat, dan berkarya tanpa rasa takut

Buku yang terdiri dari 30 bab ini mengurai secara rinci bait-bait syair Jangka jayabaya baik dalam bahasa asli (Jawa) maupun terjemahan bahasa Indonesianya. Dasar terjemahannya diperoleh dari situs internet http://www.jawaplace.org/, karya Andjar Any dan Suwidi Tono. Berdasarkan sumber diatas syair-syair Jayabaya ini diedit dan disusun kembali oleh penulis berdasarkan tema dan penulis juga melakukan koreksi terjemahan bila dirasa perlu. Pembagian syair-syair Jayabaya berdasarkan bab-bab dalam buku ini sangat memudahkan pembacanya untuk memahami seluruh syair Jayabaya secara utuh. Seluruh tafsiran Jayabaya dalam buku ini diurai dengan bahasa yang mudah dimengerti dan disertai contoh-contoh praktis sesuai dengan keadaan yang terjadi pada saat ini. Membaca seluruh tafsir Jangka Jayabaya melalui buku ini, pembaca bukan diajak berpetualang ke masa lalu atau masa depan, melainkan pembaca diajak untuk melihat kekinian, melihat apa yang sekarang sedang terjadi pada saat ini.
Jika dicermati hampir seluruh syair Jangka Jayabaya mewakili keadaan Indonesia pada saat ini dimana tak satupun juga mencerminkan keadaan yang baik, seperti zaman yang bolak balik dimana para ulama mengejar tahta. Rohaniwan lebih suka main sinetron dan menjadi penyanyi. Dan para penyanyi serta pemain sinetron malah berdakwah. Pengusaha menjadi politisi, politisi berdagang. Atau kepemimpinan sekarang dimana para pemimpin lupa akan kewajibannya, padahal pemimpin dipilih oleh rakyat karena janjinya. Namun sayang janji tinggal janji. Sumpah jabatan terkesan tinggal sebuah upacara pelengkap dan kehilangan esensinya. Dalam hal korupsi buku ini mengungkap bahwa ditengah masyarakat yang korup, hampir tidak mungkin hidup tanpa korupsi, sepertinya tak seorangpun diantara kita yang tidak pernah menyuap ‘oknum’ polisi atau pejabat untuk kelancaran urusannya. Bagi si jujur tak mungkin hidup secara jujur di tengah masyarakat yang korup. Singkatnya membaca tafsiran Jangka Jayabaya ini pembaca akan disadarkan bahwa kekacauan di negeri ini sudah merata, sudah serba kacau dan demikian buruknya seolah tak ada harpan untuk keluar dari kekacauan tersebut.

Walau seluruh buku ini mengungkap keburukan keadaan Indonesia pada masa kini, namun di bab terakhir pembaca akan diberikan harapan dan sebuah janji seperti yang diutarakan Jayabaya dalam bait-bait terakhir syairnya. Anand Krishna dibagian akhir buku inipun mencoba untuk memotivasi pembacanya untuk tak takut menghadapi zaman yang serba kacau dan terbolak-balik ini. Melalui tanda-tanda akan hadirnya seorang sosok pemimpin yang sanggup merubah zaman, Anand Krishna memotivasi pembacanya untuk segera bertindak tanpa keraguan karena sesungguhnya kekuatan untuk merubah diri dan merubah zaman ada di tangan kita. Dan siapakah sosok pemimpin yang akan pembawa pembaharuan bagi negeri kita ? Jawabannya ada di lembar paling akhir buku ini.

Yang mungkin agak disayangkan pada buku ini adalah tidak adanya bab khusus mengenai riwayat singkat Jayabaya. Dalam kata pengantarnya Anand Krishna mengatakan bahwa dalam buku ini ia tidak perlu menjelaskan siapa Jayabaya dan apakah ia tokoh hisotiris atau tidak? Anand Krishna membiarkan para ahli sejarah saja yang membahasnya. Hal ini tentunya membuat buku ini terasa kurang lengkap. Tentunya akan lebih bermanfaat jika buku ini menyertakan riwayat singkat Jayabaya baik dari segi historis maupun mitos-mitos yang berkembang di masyarkat sehingga pembaca buku ini selain memperoleh kedalaman bai-bait Jangka Jayabaya, juga memperoleh informasi sejarah yang akan memperkaya wawasan pembacanya.

@h_tanzil

0 komentar:

Poskan Komentar